Saturday, October 23, 2010

Soda Marletta

Oleh: Okta Lesmana, 18 tahun
(BWS Garut)




Cinta adalah sebentuk perasaan. Kadang perasaan itu tak bisa kita pendam, meski ingin. Menyimpan suatu perasaan akan membuat kita menjadi serba salah dan selalu tidak merasa tenang. Hal ini sama seperti yang dialami oleh Marleta Garcia, gadis remaja yang kaya raya, cantik, keren, dan juga seorang model terkenal. Ia kini sedang berusaha mengejar seorang cowok yang sama terkenal dengan dirinya, akan tetapi cowok tersebut tidak merespon dirinya.

Bukan Marleta namanya kalau mudah putus asa di tengah jalan. Ia terus berusaha dan berjuang untuk mendapatkan cinta dari cowok idamannya yang bernama Ryan.

Siapa yang tidak mengenal Ryan ? Cowok yang memiliki postur tubuh yang ideal, cakep, Ketua OSIS, Ketua Rohis, Pelajar Teladan, pernah terpilih menjadi Duta Wisata di kotanya, fasih dalam Bahasa Inggris dan Perancis. Cowok yang diam-diam paling suka sama yang namanya minuman soda.
Dan sekarang ia sedang bingung dan merasa sedikit terganggu karena Marleta kini sedang mengejar-ngejar dirinya.
Ryan dan Marleta sama-sama bersekolah di SMA Adi Jaya Bontang, yang merupakan SMA favorit dan unggulan di Kota Bontang, namun yang membedakan adalah mereka berdua tidak sekelas.
Oleh karenanya suatu kebanggaan bagi Marleta jika ia bisa mendapatkan Ryan, usaha demi usaha dilakukan Marleta untuk mendapatkan Ryan, mulai dari mengirim surat cinta tanpa pengirim sampai mengirimkan barang-barang kesukaan Ryan tanpa nama ke rumahnya.
Usaha Marleta untuk mendapatkan Ryan juga dibantu oleh beberapa temannya seperti Asela dan Rania, yang juga merupakan model. Akan tetapi, usaha mereka selama ini nihil alias mereka belum mengetahui alasan mengapa Ryan selalu menjauhi Marleta.
Seperti saat ini, Marleta dan teman-teman sedang berada di kantin dan terlihat Marleta yang uring-uringan, sejak tadi ia mondar-mandir sementara Asela dan Rania duduk dan melihat tingkah laku Marleta.
“Ta, tenang dikit napa sih lo? Dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan,” ujar Asela akhirnya
“Gimana gue bias tenang, La? Gue belum bisa dapetin Ryan, terus kalian juga belum tau kan alasan kenapa Ryan selalu ngejauhin gue?”
“Kita-kita udah berusaha lagi, cuma belum dapet aja! Ntar deh kita cari tau lagi, ya kan La?” Rania meyakinkan
“Iya, lagipula tu kan masih lama, Ta!”
“Masih lama apanya? Tinggal tiga minggu lagi lo bilang tu lama? Kalian tau ya, tiga minggu tuh bukan waktu yang lama,” tegas Marleta
“Aduh… Leta, Leta… Ngapain lo ngejar-ngejar Ryan melulu? Lo kan kaya, terus bokap lo juga punya banyak koneksi dimana-mana, lo bisa dapetin cowok yang standarisasinya lebih tinggi dari Ryan,” jelas Asela
“Please deh, La… Satu-satunya cowok yang ada di hati gue cuma Ryan dan perasaan cinta ini juga cuma buat Ryan, jadi gimana pun caranya gue musti dapetin Ryan!! Kalo kalian nggak mau bantuin gue juga nggak apa-apa kok, gue bisa sendirian!” ujar Marleta dengan suara yang semakin lama semakin nyaring.
“Duile…. Jangan marah gitu dong, Ta..!! sorry deh kalo gue tadi salah ngomong, kita pasti bantuin lo kok, kita kan sahabat,” ucap Asela dengan nada menyesal sembari memegang tangan Marleta dan Rania.
“Iya, Ta! Tenang aja, kita pasti bantuin lo!!!” Rania menimpali
“Thanks banget ya! Kalian emang sahabet terbaik gue”
Mereka bertiga pun berpelukan satu sama lain.
“Eh, maaf ganggu…”
Alangkah terkejutnya Marleta begitu mengetahui si empunya suara.
“Ryan???”
“Maaf ya kalo aku ganggu?”
“Oh… Nggak… Nggak apa-apa kok… Gue… eh, aku juga lagi nyantai kok,” ucap Marleta salah tingkah
“Oh, syukur deh kalo aku nggak ganggu kalian,” ujar Ryan lagi
“Eh… kalo boleh tau ada apa ya?” Tanya Marleta
“Oh,iya! Gini, kalian udah tau kan acara yang bakal diadain di sekolah kita?”
“Iya, terus?”
“Nah, aku selaku ketua OSIS yang kebetulan menjabat sebagai seksi acara dalam kepanitiaan ini mau meminta partisipasi dari original agency tuk ngisi acara fashion dance, bisa kan?”
“Oh, tentu… tentu aja bisa, ya kan La, Ra?”
“I… Iya… Bisa kok”
“Nah, kalo gitu surat ini aku titipin ke kamu aja ya? Kalian dari original agency kan? Aku tunggu kepastiannya lusa, aku selalu ada di ruang OSIS, jadi kalo ada apa-apa kalian bisa hubungi aku di ruang OSIS. Ya, udah… Ini suratnya dan aku permisi dulu soalnya masih banyak kerjaan, sebelum dan sesudahnya makasih banyak”
“Tunggu dulu, Nggak usah nunggu lusa deh, sekarang aja deh keputusannya, intinya kita bisa,” ucap Marleta
“Oya? Kalo gitu oke deh, jadwalnya ada di surat itu dan sekali lagi aku ingetin kalo ada apa-apa hubungi aku, aku tinggal dulu ya!”ujar Ryan sembari meninggalkan kantin menuju ruang OSIS setelah menyerahkan amplop berisi surat kepada Marleta.
“Nah, sekarang tunggu apalagi? Ayo, kalian ikutin Ryan ke ruang OSIS dan cari lagi informasi terbarunya,” kata Marleta
“Oh,iya… Kita-kita pergi dulu ya, doain moga kita sukses dapetin infonya!”
“Pasti gue doain, gue tunggu di kelas ya, dagh…”
Akhirnya Asela dan kawan-kawan pergi untuk membantu Marleta mencari tahu kenapa Ryan menjauhi Marleta.
Ketika Ryan tiba di ruang OSIS, teman-temannya sudah berada diruang OSIS untuk mengerjakan proposal untuk acara pentas seni yang sekitar tiga minggu lagi akan diadakan di sekolah mereka, teman-teman Ryan membagi tugas ada yang mengetik proposal sementara yang lain mengobrol dengan Ryan. Sementara itu di luar ruangan Asela dan Rania menguping pembicaraan antara Ryan dan teman-temannya.
“Hey, bro… Dari mana aja?” Tanya Zacky yang sedang mengetik proposal
“Dari kantin, abis ngasih surat ke Marleta untuk partisipasinya ngisi fashion dance,” jawab Ryan sembari menyusun surat-surat.
“Cieeeeeee… Marleta nih… Eh, masi dikejar-kejar ma Marleta?” Tanya Zacky lagi
“Tau ah…” jawab Ryan singkat
“Oh,iya yan… katanya kamu lagi dikejar-kejar ma Marleta? Terus napa kamu nggak terima aja tuh Marleta?” tanya Falia
“Nggak apa-apa sih, lagi males aja!” jawab Ryan seraya menyimpan surat-surat yang tadi disusunnya ke dalam arsip.
“Alaaah… Lagi males atau males? Ah, Ryan mah nggak tau selera tinggi! Terima aja deh… Kurang apa sih si-Marleta itu? Udah cantik, kece, model lagi….” Cerocos Zacky sambil masih mengetik proposal.
Asela dan Rania pun tersenyum satu sama lain begitu mendengar ucapan Zacky.
“Yaa…kalo menurut aku, dia tetep aja dia ada kekurangannya…”
“Apalagi yang kurang ?” potong Zacky.
“Please deh, nyamber terus…. Selesain dulu tuh proposal, baru ngobrol!!”, Falia memarahi Zacky.
Dan Zacky pun langsung menggerutu tidak jelas sambil terus mengetik proposal.
“Hehehe… Emang enak dimarahin?” ledek Ryan
“Biasa aja kali, terus alasan kamu nggak nerima Marleta apa?” bela Zacky seraya bertanya kembali.
“Kalian pengen tau alasan kenapa aku nggak nerima Marleta?”
“Yup,” jawab Zacky dan Falia bersamaan.
Asela dan Rania yang berada di luar ruang OSIS pun berdebar-debar menunggu Ryan mengatakan alasan kenapa ia tidak menerima Marleta menjadi pacarnya.
“Well, sekarang gini .. Aku kepengen punya pacar yang suka ama minuman soda dan kalian tau kalo Marleta sama sekali nggak suka bahkan alergi ama yang namanya minuman soda!” jelas Ryan sembari tersenyum.
“Oh, gitu toh,” ucap Zacky dan Falia bersamaan.
“Udah buruan kerjain tuh proposal”
“Oke deh”
Setelah mendapatkan informasi yang mereka cari, Asela dan Rania pun langsung meninggalkan ruang OSIS dan menuju kelas untuk memberitahu informasi yang mereka dapat kepada Marleta.
“Apa??!! SSOODDAAA….?!?!” teriak Marleta histeris ketika mendengar laporan Asela dan Rania.
“Iya, soda ta… Gimana dong? Lo kan nggak suka ama minuman yang ada sodanya?” ujar Rania
“Terus gimana dong?” Asela menimpali
“Gue juga bingung neh, bisa mati gue kalo disuruh minum minuman soda, gue kan alergi banget tuh ama minuman soda bahkan gue udah bersumpah nggak bakalan minum yang namanya minuman soda seumur hidup gue!!!”
“Wah, lo kemakan omongn tuh! Masa gara-gara cowok yang lo cinta, lo harus bela-belain minum minuman yang nggak lo suka? Kalo gue seh ogah, ta!” cerocos Asela panjang lebar
“Sama, kalo gue mah cari aja cowok laen, kan masih banyak tuh cowok di dunia ini!” Rania menimpali
“Ya, itu mah kalian… Tapi kalo gue udah cinta mati ama Ryan! Tapi tenang aja gue bakal cari cara laen untuk ngedapetin Ryan, kita liat aja nanti,” ujar Marleta sembari tersenyum.
“Ya, udah… kita pulang aja yuk!!!” ajak Asela
“Jam terakhir kosong ya? Kalo gitu ayo deh!!!”
Mereka bertiga pun sepakat untuk pulang, setelah berkemas mereka keluar dari kelas dan pulang bersama-sama.

* * *
Di Rumah, Marleta masih memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan Ryan tanpa harus berusaha menyukai apalagi meminum minuman soda.
Ih, amit-amit deh… Lebih baik mati deh daripada harus minum minuman soda yang terkutuk itu… Hiii… Nggak kebayangkan kalo sampe gue minum tu minuman, batin Marleta.
Tok… Tok… Tok…
Pintu kamar pun diketok oleh seseorang dari luar kamar.
“Masuk, nggak dikunci kok”
Pintu pun terbuka dan ketika Marleta menoleh untuk melihat siapa yang masuk, ternyata mamanya. Setelah pintu ditutup, wanita setengah baya itu menghampiri Marleta.
“Ada apa ma?” Tanya Marleta sembari bangun dari tidurnya dan berusaha untuk duduk
“Seharusnya mama yang bertanya demikian kepada kamu, ada apa Marleta? Mama lihat, akhir-akhir ini kamu uring-uringan dan lebih banyak megurung diri di dalam kamar. Ayo dong cerita ke mama, biasanya juga kalau kamu lagi ada masalah kan ceritanya sama mama, sekarang cerita ada apa?” ucap mama
Marleta pun langsung memeluk mamanya dan tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya dan mulai bercerita.
“Marleta lagi suka sama cowok di sekolah Marleta, ma”
“Lalu?”
“Tapi cowok itu nggak suka ama Marleta!!! Terus mama tau nggak alasan kenapa dia nggak suka Marleta?”
Mama pun menggeleng
“Cowok itu nggak suka Marleta cuma gara-gara Marleta nggak suka ama minuman soda, padahal itu cuma hal yang sepele kan ma?” Tanya Marleta.
Mama pun mengangguk pelan lalu kemudian berkata,
“Kan cowok di dunia ini bukan cuma dia aja,ta? Masih banyak kok cowok di dunia ini yang masih mau sama kamu, lagipula kan kamu cantik selain itu punya banyak bakat, apa susahnya cari yang lain? Apa kamu mau mama kenalin sama koneksinya papa?”
“Nggak… Nggak perlu ma!!! Marleta cuma cinta ama cowok yang ada di sekolah Marleta itu”
“Ya… Itu sih terserah kamu! Mama akan selalu dukung dan berdoa semoga kamu bisa mendapatkan apa yang terbaik buat kamu,” mama menasehati.
“Makasih banyak ya, ma!” ucap Marleta sembari memeluk mamanya
“Ya, sudah.. Mama mau pergi arisan dulu, kamu jaga rumah ya? Abangmu baru pulang nanti malam, mama juga mungkin pulangnya agak maleman. Hati-hati ya sayang!!” ujar mama sembari pergi meninggalkan Marleta.
Setelah mamanya keluar dari kamar, Marleta kembali tidur-tiduran dan termenung memikirkan caranya untuk mendapatkan cinta Ryan.
Malam harinya, ia masih termenung karena sampai saat ini ia belum mendapatkan cara untuk mendapatkan Ryan. Satu-satunya cara yang ada hanya dengan menyukai dan minum minuman soda, Marleta selalu bergidik ketika membayangkan dirinya minum minuman soda.
“Halooooo…. Adek abang tersayang, lagi ngapain?” ucap Rico, abang Marleta, sembari masuk ke dalam kamar Marleta.
“Ih, nggak sopan ya masuk kamar orang! Kalo masuk tuh ketok dulu kek, salam kek, apa kek, ini maen nyelonong aja,” samber Marleta
“Duile… kayak nenek aja lo, cerewet amat… mana mama?”
“Emang kenapa nanya-nanya?” ujar Marleta masih dengan nada kesal
“Busyet dah… Sensi amat ni nenek, lagi ‘dapet’ ya nek?” ledek Rico
“Abang apa-apaan sih? Udah deh keluar sana!!!”
“Kasih tau dulu, mama kemana?”
“Arisan bawel… Napa sih lo nanya-nanya kemana mama? Ah, gue tau lo mo keluyuran malem-malem kan? Liat aja ntar gue bilangin mama kalo mama udah dateng!” ancam Marleta
“Ya, ampun dia mitnah orang lagi? Eh, tau nggak kalo memfitnah orang itu lebih kejam daripada pemerkosaan,”
“Bodo amat, pokoknya kalo abang coba-coba keluar dari rumah, Leta bakal aduin ke mama kalo abang keluyuran,” ancam Marleta tak peduli
“Yaaaaaaa, dia ngancem lagi!!? Nek, gue kasih tau ya, gue juga nggak bakalan keluar rumah! Gue cuma pengen bilang ke mama kalo gue udah pulang dari latian basket, dasar si nenek!!!”
“Uh, alasan banget tuh”
“Kalo nggak percaya, ya udah! Oya, ntar kalo mama pulang bilangin kalo abang tidur di kamar terus kamu jangan ganggu abang soalnya abang capek banget,” kata Rico
“Uh, enak banget tidur? Nggak tau apa adeknya lagi ada masalah! Bantuin kek mecahin masalahnya, ni malah enak-enak kan tidur, sebel”
“Emang gue pikirin, selesain aja masalah lo sendiri, gue nggak mau campurin masalah orang lain, soalnya nggak enak. Mau tau apa yang enak?”
“Nggak, mang apaan?” Tanya Marleta
“Tidur tauuuuuuu…..”
Rico pun langsung berlari keluar kamar begitu melihat Marleta meraih jam beker di sam ping tempat tidurnya.
“Dasar rese!!!”
Dalam kesal ia memejamkan mata, berusaha untuk tertidur, akan tetapi ia masih selalu terbayang-bayang minuman soda. Setelah agak lama usahanya memejamkan mata, akhirnya ia dapat tertidur lelap.
Tak lama kemudian mama pulang dari acara arisan, ia melihat Marleta yang sudah tertidur lelap, mama mendekati Marleta yang sudah tertidur lalu beliau menutupi tubuh Marleta dengan selimut.
Sebelum mematikan lampu, mama mencium kening Marleta sambil berkata ”Selamat tidur anakku, semoga kamu bisa dapatkan apa yang kamu inginkan”. Setelah mematikan lampu, mama keluar dari kamar dan menutup pintu.
* * *

Hari-hari berikutnya Marleta terus memikirkan bagaimana caranya ia mendapatkan Ryan, tapi ia berpikir bahwa ia tidak mungkin meminum minuman yang sangat dibencinya itu.
Marleta pun semakin bingung ketika pentas seni yang akan diadakan oleh OSIS SMA Adi Jaya akan segera tiba, bagaimana dia tidak semakin bingung kalau pentas seni akan diadakan pada hari yang paling istimewa sepanjang tahun di seluruh dunia dimana orang-orang mencurahkan kasih sayang kepada pasangannya dan memberikan sesuatu yang paling berharga untuk pasangannya, dan hari yang paling membahagiakan ini jatuh pada tanggal 14 Pebruari, apalagi kalau bukan hari Valentine.
“Masa valentine tahun ini gue jomblo”
Wajar saja Marleta berkata demikian karena Marleta berencana akan menggandeng Ryan sepanjang pentas seni berlangsung, memperkenalkan kepada teman-temannya, mengunjungi bazaar yang ada sambil makan dan menonton pentas seni setelah dia ber-catwalk ria bersama teman-teman model SMA Adi Jaya.
Akan tetapi, semua itu hanyalah impian belaka setelah Marleta mengetahui alasan Ryan menjauhinya.
“Aduh! Bisa ancur nih rencana aku!”, batin Marleta ketika sedang memikirkan rencananya yang telah disusun secara matang beberapa waktu yang lalu.
“Aku harus ngubah rencana”, pikir Marleta
Ia pun tersenyum ketika telah mendapat ide untuk mendapatkan Ryan.
Pentas seni yang dinanti-nantikan pun terselenggara juga, SMA Adi Jaya terlihat ramai sekali, bagaimana tidak? seluruh SMA/SMK baik negeri maupun swasta di Bontang diundang. Organisasi sekolah pun diundang mulai dari pengurus Rohis sampai dengan ekstrakulikuler-ekstrakulikuler yang ada di sekolah masing-masing.
Acara pun berlangsung sangat seru, dibuka oleh Virtual Band dan pidato pembukaan dari ketua panitia dan kepala sekolah, acara kemudian dilanjutkan oleh Fashion Dance oleh Marleta cs.dan lain-lain, selain ada acara hiburan ada juga bazar mulai dari makanan ringan sampai outlet pakaian, semuanya dijual dengan harga pas buat kantong anak sekolahan. Akan tetapi, dimana Marleta? Dia menghilang setelah beraksi di atas panggung bersama teman-temannya, tak seorang pun yang mengetahui dimana Marleta berada. Jangankan teman-temannya dari sekolah lain, teman-teman modelnya pun teman-teman seperti Asela dan Rania tidak mengetahui dimana Marleta.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian?
Suasana mendadak menjadi hening, dentuman musik tiba-tiba berhenti dan semua aktivitas pun terhenti, orang-orang pun saling berpandangan, dan semuanya bertanya satu sama lain dengan pertanyaan yang sama.
“Ada apa ?”
Tiba–tiba Marleta sudah berdiri di atas panggung masih lengkap dengan kostum fashion-nya, terlihat ia sedang memegang minuman Soda di tangan kirinya, kemudian dengan tangan kanannya, ia meraih dan memegang microphone dan mulai berbicara.
Otomatis semua perhatian pengunjung tertuju kepada Marleta yang berdiri di atas panggung.
“Wah, nekat tuh Marleta”
“Mau apa sih dia?”
Semuanya bertanya-tanya satu sama lain apa yang akan diperbuat oleh Marleta yang saat ini berdiri di atas panggung untuk kedua kalinya, setelah tadi ia tampil fashion dance bersama teman-temannya.
“Ryan aku udah lama suka dan sayang ama kamu, tapi kamu nggak pernah mau nanggepin aku hanya karena aku ga suka minum minuman soda…. Sekarang, di hari Valentine ini aku mo buktiin ke semua orang khususnya Ryan kalo aku juga bisa menyukai minuman soda”
Saat itu Ryan hanya melihat dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Marleta, dan kini semua pandangan mata tertuju pada dirinya.
Kemudian Marleta mulai meminum minuman soda yang dibawanya dengan mata terpejam, tak lama Marleta muntah-muntah kemudian jatuh pingsan lalu orang-orang pun mulai kalang kabut, sebagian orang mengangkat dan membawa Marleta ke ruang UKS.
Acara sempat terhenti sejenak, namun tak lama kemudian acara dilanjutkan tanpa terganggu oleh kejadian tadi.
Setelah acara selesai, seluruh siswa-siswi SMA/SMK se-Bontang pun pulang, lama kelamaan SMA Adi Jaya menjadi sepi, panitia pelaksana pun membereskan seluruh peralatan yang tadi dipakai dalam acara pentas seni.
Setelah sekian lama, akhirnya Marleta sadar, Marleta melihat Asela, Rania, Falia, Gracila dan…Ryan. Lama semuanya terdiam, sampai Ryan membuka dan memulai pembicaraan.
“Aku nggak nyangka kamu nekat!” ucap Ryan singkat seraya menatap Marleta.
Akan tetapi, Marleta memalingkan wajahnya, ia tak berani menatap mata Ryan yang tajam. Ia malu mendengar ucapan Ryan, ia kini terus-menerus meneteskan air mata sementara itu Ryan terus menatap Marleta seraya melanjutkan ucapannya yang singkat tadi.
“Aku udah lama tau kalo kamu suka ama aku… Bukannya aku keGRan dan jual mahal. Tapi jujur, kamu belum bisa memenuhi kriteria cewek idamanku. Aku tau kalo kamu cantik, kece, gaul, dan model terkenal tapi semua itu ga cukup, aku cuma suka ama cewek yang suka ama minuman soda……..”
“Tapi Yan…” potong Marleta .
Ryan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Marleta yang seketika itu menghentikan ucapannya.
“Ssssttt… Kamu terlalu maksain diri, aku cuma mau kalo cewekku suka minum minuman soda dari hatinya, bukan karena terpaksa seperti yang kamu lakukan tadi, kamu ga sadar dengan apa yang kamu lakuin tadi? Apa jadinya tadi kalo ada wartawan Koran yang meliput kegiatan Pensi kita ini? Otomatis bukan cuma nama kamu yang jelek tapi juga nama sekolah kita. Apa jadinya kalo besok di Koran terpampang jelas topik utama dengan judul: ‘MARLETA, MODEL TERKENAL YANG JUGA SISWI SMA, PINGSAN SETELAH MINUM MINUMAN SODA HANYA GARA-GARA COWOK PADA PENTAS SENI SMA ADI JAYA BONTANG’… Apa kamu tidak malu?” ucap Ryan panjang lebar.
“Ryan, sudah cukup…” ujar Falia
“Iya, yan… Sudahlah, jangan diperpanjang lagi, kita sudah terlanjur malu jangan lagi kamu buat sesuatu yang memalukan lagi,” Zacky menasehati
“Oke… Oke… Maaf, kalo aku tadi kelepasan”
Marleta terus-menerus menitikkan air mata ketika mendengar ucapan Ryan yang seakan petir menyambarnya saat itu, sementara itu Ryan menghela napas dan berkata lagi.
“Well, Jadi… keputusanku udah jelas, aku ga bisa, Marleta… Sorry…” lanjut Ryan seraya meninggalkan ruang UKS yang kemudian diikuti oleh Falia dan Zacky.
Dan membiarkan Marleta yang menangis tersedu-sedu di antara Asela dan Rania.

Copyright@2007 by BWS, dilarang meng-copy tanpa izin tertulis dari BWS