Saturday, October 23, 2010

One Side of Love

Oleh: Mulandari Palupi, 16 tahun
(BWS Bandung)




Meski cintamu bertepuk sebelah tangan
Kau masih beruntung pernah mencintai seseorang



Aku menyukainya. Tapi dia tak menunjukkan perasaan yang sama.
Tadinya aku akan memendam perasaan ini dalam hati. Namun semakin hari, gejolak itu semakin kuat. Meski ragu dan takut, kurasa sebaiknya aku menyatakan isi hatiku.
Belum pernah mengungkapkan cinta pada siapapun, kucoba curhat kepada teman sebangku. Lalu kepada teman-teman lain di bangku depan dan belakang. Saat itu aku memang masih duduk di kelas dua SMP. Dan cowok yang kusayangi itu, satu kelas denganku. Respon para sahabat saat aku curhat, adalah memberi dukungan sepenuhnya. Kata mereka, “Bagus. Akan jadi pasangan yang serasi. Cantik dan tampan.”
Aku berbunga. Mendengar semua komentar, setidaknya ada harapan. Bahwa apa yang kurasakan mungkin memang tak berlebihan. Bahwa aku layak menyayangi dan mendapatkan rasa sayangnya.
Meski sempat mendengar salah satu teman memberi reaksi berbeda, aku malah makin berbunga. Temanku berkata, “Dia itu….tak terlalu cocok untukmu. Tampangnya memang oke, tapi dia nggak secerdas kamu.” Nah, artinya aku sudah punya kelebihan dibanding cowok yang kusayang kan? Ini akan menjadi nilai tambah tersendiri, demi merebut perhatian dia.
Berawal dari curhat, berubah jadi gosip hangat. Sudah tersebar di seantero kelas, dan bahkan sampai juga ke kelas-kelas tetangga, bahwa aku jatuh cinta padanya. Hanya saja dia belum tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu. Dia tak bereaksi apa-apa. Meski setiapkali berinteraksi denganku semua orang langsung ber-ehm ria….dia tampak biasa saja. Tak pernah menunjukkan sinyal apapun yang aku inginkan.
Suatu hari, kelas kami sedang menghadapi ulangan Fisika. Hasil ulangan langsung dinilai saat itu juga dengan bantuan para murid. Sang guru hanya tinggal menyebut nama-nama dalam daftar absensi, dan murid yang memeriksa kertas ulangan dengan nama tersebut akan menyebutkan nilainya.
“Mulandari Palupi…”
Itu namaku. Teman yang memeriksa kertas ulanganku segera menyebutkan nilaiku. “Delapan koma tiga.”
Guru Fisika berdeham sebentar. Seperti biasa, nilaiku selalu bagus. Tapi tak pernah dikomentari. Guru kami malah lanjut ke daftar nama berikutnya. Dan sampailah pada nama yang sudah kutunggu-kutunggu. “Tubagus Ferdy Firmansyah Agung….”
Seorang siswa dari pojok kelas berteriak, “Minus nol koma tujuh.”
Mendengar kata minus, wajah guru Fisika kami kontan mengelam. Ia berdiri. Dengan tampang sangar ia berkata, “Mana orangnya? Nama sih panjang, tapi otak pendek. Ffuah!” Pak Guru meludah ke lantai!
Aku menggigil. Tak kuasa menyaksikan cowok yang kusayangi diperlakukan demikian. Ah, gimana ya perasaannya? Pasti malu, sedih, marah…
Entah kenapa, sejak peristiwa itu, rasa cintaku tak pupus padanya. Aku malah makin sayang padanya. Aku tahu, dia butuh pertolongan dalam hal akademik. Kami akan saling membutuhkan. Dan ini peluang. Kami bisa barteran. Aku beri dia tips belajar, dan dia beri aku cinta. Cukup adil, kan? Itulah pikiran sederhana seorang anak remaja.
“Hai, gimana kalo kita sekelompok?” kataku suatu hari, membuka komunikasi. Beberapa teman yang mendengar langsung sorak sorai. Kurasa gosip akan makin melebar.
“Oke,” kata dia dengan tampang innocent-nya.
Jadilah kami sekelompok dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Juga dalam mata pelajaran lainnya. Kami sering bersama. Namun sampai sekian lama, aku tak juga punya keberanian menyatakan perasaan.
Karena makin lama perasaan ini makin bergejolak, akhirnya aku nekad. Meminta bantuan seorang teman untuk jadi mak comblang. “Tolong katakan padanya, aku sayang padanya dan butuh jawaban sekarang juga.”
Temanku melakukan tugasnya saat jam istirahat pertama. Aku menunggu sambil deg-degan. Inilah pertama kalinya aku ‘menembak’ cowok di sekolah.
Setengah jam berlalu dan akhirnya temanku kembali.
“Apa jawabannya?” tanyaku tak sabar.
Temanku diam, membuatku hampir pingsan. Lalu katanya, “Dia nggak menjawab apa-apa. Dia cuma bilang, dia merasa nggak pantas buatmu.”
Aku terkejut. Tak tahu harus sedih atau bahagia. Apakah ini berarti penolakan? Atau peluang?
Yang jelas, aku tak puas dengan jawaban itu. Aku harus bertanya padanya secara langsung. Kucari dia saat jam istirahat kedua. Ke kantin, ke mushola, ke perpustakaan, dan ke semua tempat yang mungkin dia ada. Lalu…pop! Kudapati dia ada di ruang klub pecinta alam, tengah bicara dan tertawa lepas dengan seorang gadis yang kuyakin adalah adik kelas kami.
Entah kenapa harapanku mendadak sirna. Mungkin aku telah salah menilai dirinya. Dia tak serapuh yang kukira. Dia tidak butuh pertolongan, perhatian, atau simpati apapun seperti yang kuduga. Dia tidak butuh apa-apa. Dia tak butuh diriku. Tak butuh kemampuan akademikku. Dia menikmati kehidupannya sendiri yang selama ini tak pernah kuketahui.
Hari berikutnya aku mendengar selentingan bahwa dia tengah melakukan pendekatan pada Riska. Riska adalah adik kelas kami yang kulihat bercanda bersamanya di ruang klub pecinta alam itu. Hatiku bergejolak. Kecewa menyelimuti segenap rasa. Namun, aku tak akan menyerah, pikirku. Sebelum tahu dari mulutnya sendiri, tentang kejujuran hati, takkan aku berhenti di sini.
Jadi, kuatur sebuah janji pertemuan seusai jam pelajaran.
Kami duduk berdua di depan kelas yang sudah sepi karena semua siswa sudah pulang.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” dia bertanya tanpa basa-basi. Sikapnya menunjukkan bahwa dia sedang punya suatu urusan penting dan ingin cepat-cepat pergi.
Entah kenapa aku mulai marah. “Apa yang ingin aku bicarakan? Menurutmu apa?”
Dia langsung menyadari kesalahannya. “Umm…sori. Seharusnya, kata-kataku lebih sopan. Tapi aku memang sedang terburu-buru. Bisakah pertemuan ini dipercepat?”
Kata-katanya malah membuatku makin marah. Aku benar-benar dianggap tidak penting.
“Ya sudah kalau kamu sedang terburu-buru. Lain kali saja…”
“Oh, nggak, nggak. Sekarang saja,” dia terdiam beberapa saat. Lalu bertanya dengan sedikit ragu, “Apakah ini tentang hubungan kita yang selama ini digosipin teman-teman?”
Kuhela nafas. Egoku mendadak muncul. “Ya,” ujarku ketus. “Dan aku ingin konfirmasi bahwa hubungan kita tak lebih cuma sahabat. Itu saja.”
Kalimatku meluncur terlalu cepat. Meski ada sedikit sesal, aku tak bisa menariknya kembali.
Dia memainkan ujung sepatunya. Lama baru berkata, “Kalau begitu, aku setuju. Kita sahabatan. Sejak kamu mengajakku satu kelompok dalam tugas Bahasa Indonesia, aku memang kagum padamu. Kamu cantik, pintar, dan aku sangat beruntung bisa jadi sahabatmu.”
Dia menatap mataku sesaat, tersenyum, lalu pergi dengan langkah cepat.
Dan aku mematung di sudut kelas yang sepi. Menyesali apa yang baru saja terjadi. Kenapa aku begitu bodoh?
“Hey tunggu,” aku berlari mengejar dia. Tapi dia sudah menghilang entah kemana.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa kulakukan adalah, bagaimana agar ‘bubur’ itu tetap enak. Aku harus melakukan pendekatan berbeda padanya. Memanfaatkan status baru kami yang ‘sahabatan’. Mungkin suatu saat, peluang kedua akan tiba dan arah angin akan berubah.

***

“Firman, temani aku ke ruang guru…,” ujarku suatu kali padanya, dengan nada sedikit memerintah.
“Firman, bantuin aku ngerjain tugas…,” ujarku di kali yang lain.
“Firman, temani aku rapat OSIS…”
“Firman, ayo kita pulang bareng…”
Sejak terikrarnya hubungan ‘persahabatan’ yang tak dikehendaki itu, aku tak mau melepas dia. Aku seolah ketagihan untuk terus menyuruhnya ini dan itu, supaya dia tetap ada bersamaku. Ketika dia menunjukkan muka enggan, aku segera mengingatkannya. “Katanya sahabat…gimana sih?” Dan dia tak bisa menolak semua keinginanku.
Itulah cara pendekatanku yang baru. Aku tak mendapatkan cintanya. Tapi aku bisa mendapatkan dirinya. Aku bisa memperlakukannya sesuka hati.
Sialnya, semakin dia menurutiku, semakin membuncah perasaan sayangku. Semakin kubuat dia menderita karena harus selalu mengikuti kemauanku, semakin aku menderita karena deraan rasa cintaku.
Aku tahu, aku harus segera mengakhiri semua ini.
Tapi ibarat makan cabe, meski pedas selalu ingin lagi dan lagi.
Aku semakin menginginkannya, mengajaknya kemanapun aku pergi, dan dia tak bisa menolaknya. Saking seringnya kami bersama, dia hampir tak memiliki waktunya sendiri. Dia hanya memiliki dirinya sendiri saat sekolah libur.
Akan tetapi, suatu kali dia berhasil ‘lari’ dariku. Dia mengadakan camping bersama klub pecinta alam, diam-diam pada hari Sabtu. Dan hari Seninnya, isu tentang hubungan istimewanya dengan Riska makin merebak.
Gosip semakin sengit. Dan aku semakin posesif. Tak kubiarkan seharipun dia lepas dariku. Jam istirahat, kusuruh dia mengantarku ke sana ke mari (karena kebetulan aku aktif di organisasi). Jam pulang, kupaksa dia menemaniku pulang bersama. Kubuat dia tak punya kesempatan berhubungan dengan Riska. Aku telah berubah menjadi gadis yang egois.
Hingga suatu hari aku jatuh sakit di kelas. Dia mengantarku pulang. Kami berjalan berdua menyusuri trotoar menuju rumahku.
Tanpa kata, aku meliriknya di tengah rasa sakit migraine di kepalaku. Kulihat wajahnya muram.
Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di hatiku. Aku telah bersikap tak adil selama ini. Aku telah mengekang dia, mengikat dia dengan dalih yang tak bisa ditolak. Karena dia memang tipe orang yang sulit berkata tidak.
Aku telah membuatnya menderita. Dan juga membuat diriku sendiri makin tersiksa dengan hubungan yang aneh ini. Kalau ini cinta, kenapa harus begini? Dia mungkin mencintai Riska, kenapa aku harus menghalanginya? Bukankah cinta itu tidak egois? Bukankah cinta tak selalu harus berhasil? Kenapa aku tak mau memahami kenyataan ini?
Dalam rasa sakit yang mendera tubuh dan hatiku, aku bertanya padanya. “Apa benar kamu suka sama Riska?”
Dia tidak menjawab. Kami berdua terus berjalan. Dan entah darimana asalnya, gerimis turun dan mulai membasahi seragam kami. Dengan sigap, dia membukakan payung untukku. Kami beriringan dalam hujan, satu payung berdua.
Seharusnya ini adalah momen yang indah. Seharusnya ini momen yang romantis. Namun hatiku malah gerimis. Dinginnya tubuhku membuat luka batinku terasa beku. Kenapa dia ada di sisiku, sementara hatinya mungkin tidak di situ? Kenapa dulu kami harus bertemu? Kenapa dia harus ada dan aku mencintainya? Kenapa aku harus mengingkari perasaan dan bertindak bodoh dengan mengakuinya sahabat, kalau akhirnya aku melanggar semuanya? Kenapa aku harus mengingkari ucapan sendiri dan tak rela dia berpaling pada gadis lain?
Kakiku terantuk batu dan dia menangkap tubuhku sebelum jatuh. Sesaat, kami begitu dekat. Namun aku tahu, ini tak boleh terjadi. Kulepas genggamannya dengan sejuta perasaan.
Akhirnya dia bergumam pelan. Hampir tak terdengar. “Aku mencintai Riska.”
Butiran hujan memukul wajahku. Kugigit bibir. Kurasakan tubuh gemetar.
“Dan sebagai sahabat,” lanjutnya, “Maukah kamu membuatkanku surat cinta untuk Riska? Terus terang saja aku tak tahu cara menyatakan perasaan pada seorang gadis.”
Entah cuma perasaanku atau memang begitu, petir berpendar memecah langit. Hatiku hancur berkeping-keping. Tubuhku serasa tak menggapai bumi. Melayang terbang, lalu terempas jatuh ke tanah. Tahu-tahu, aku dapati diriku tengah duduk di atas trotoar yang basah dengan air hujan. Sambil menangis perlahan.
Dia kebingungan dan bertanya, “Apa sakit kepalamu bertambah parah?”
Tangisku pecah.
***
Satu semester berlalu sejak kejadian itu. Aku telah memenuhi janjiku untuk menjadi sahabat yang baik baginya, yakni dengan membuatkan surat cinta untuk Riska, atas nama dia. Dan seperti yang kuharapkan, Riska menolak pernyataan cintanya. Tapi hubungan kami tak jadi membaik. Dia mulai menjauhiku, dan aku juga berusaha menjauhinya. Kami tak ingin memulai lagi hubungan yang tak menentu ini. Aku ingin mengakhiri perasaan cinta yang indah namun perih ini.
Naik ke kelas tiga, kami berpisah. Dia kelas G, aku A. Aku berusaha melupakannya dengan konsentrasi pada pelajaran. Nilai-nilaku bagus dan aku mendapat juara satu. Selain itu, berbagai penghargaan lomba tingkat propinsi dan kotamadya aku kantongi. Namun begitu, hatiku selalu sepi.
Tak terasa perpisahan kelas tiga sudah tiba. Aku akan berpisah dengan semua kenangan yang terjadi selama masa SMP. Saat pengumuman NEM, aku tak ada di sana. Lewat mikrofon di lapangan, namaku dipanggil berkali-kali untuk menerima penghargaan. Aku malah diam di kelas dan sibuk menulis diary.
Lalu dia datang padaku untuk memberi tahu, “Selamat ya. Kamu dapat NEM terbaik di SMP ini.”
Itulah kata-kata pertamanya untukku, sejak kami terpisah di kelas tiga. Dan mungkin, itu juga kata-kata terakhirnya.
Aku tahu, sejak saat itu kami takkan pernah bertemu lagi.
Di suatu malam yang dingin, aku melaju menuju sebuah kota baru. Aku akan melanjutkan studi ke SMA dan memulai hidup baru. Namun mataku berkaca-kaca. Aku sadar, meski ragaku telah pergi jauh, namun sekeping jiwa masih tertinggal di sana. Di bangku SMP yang telah menorehkan kisah cinta yang tak pernah tersampaikan, yang akan selalu jadi sepenggal kenangan.



Copyright@2008 by BWS, dilarang meng-copy tanpa izin tertulis dari BWS