Tuesday, February 2, 2010

I'll Be Alright

Cerpen: Elie Mulyadi









Ramadhan, 1422 H

Assalamu’alaikum, Ann. Nanti sore aku mau ke Baranang Siang. Bisakah kita ketemu?

Kubaca sms itu. Untuk yang ketiga kali. Dari Naz. Sebuah tanda tanya muncul di benakku. Ada apa?

Tidak biasanya ia mengontak. Meski sekedar sebaris kata via sms. Selama ini, akulah yang selalu menghubunginya. Via email, telepon, apa saja yang menurutku bisa dijadikan sarana membuka percakapan dengannya. Sekedar say hello, sedang apa di sana, sudah sholat apa belum, sedang ada jadwal kuliah atau tidak, dan sederet sapaan tak penting lainnya. Naz selalu menjawab sapaanku, emailku, sms-ku, telepon dariku – tapi tak pernah ia yang memulai. Aku tahu, karakternya memang pendiam. Dia bukan tipe inisiator untuk hal-hal semacam menanyakan kabar.

Aku mondar-mandir di flatku. Bercermin. Beralih dari satu jilbab ke jilbab lain. Mencari pakaian yang paling pantas untuk dikenakan di sore hari. Setengah jam lagi Naz akan tiba di taman kampus. Tapi aku bahkan belum menemukan baju yang pas. Akhirnya, kuputuskan untuk tampil apa adanya. Blus putih, kerudung putih, dan rok biru bunga-bunga yang biasa kupakai untuk kuliah.

Langkahku berderap cepat, namun otakku bergerak lambat. Menerka-nerka apa maksud pertemuan ini. Namun jawabannya selalu mentok di kata “tidak tahu”. Naz memang selalu begitu – menyimpan segala sesuatu sampai waktunya tiba.

Saat memasuki taman kampus, sosok itu sudah berdiri di sana. Tersenyum melihat kehadiranku. Sebuah debaran menelusupi hatiku. Sosok itu, rambut hitam lurus itu, sepasang kacamata itu, semua persis dengan yang selama ini hidup dalam imajiku.

“Udah lama nunggu?” sapaku.

“Nggak. Kamu kan selalu tepat waktu,” ia tersenyum, menciptakan rona di kedua pipiku. Kalau melihat senyumnya, aku memang selalu jadi semerah jambu.

Naz mengajakku duduk di sebuah bangku taman, di antara pepohonan rindang. Di sekeliling kami penuh dengan mahasiswa yang tengah belajar kelompok atau mengadakan rapat-rapat kecil. Jadi kami tidak sendirian. Naz nggak suka “mojok”, dia ikhwan.

Kami memulai percakapan, seputar masalah kuliah. Dia lebih senior setahun dariku, jadi sudah sepantasnya lebih banyak bicara, kan? Tapi aneh juga mendengarnya bicara terlalu banyak. Selama ini, Naz terkenal pelit berkata-kata. Adakah sesuatu yang sedang ditutupinya? Kok aku merasakan semacam atmosfir kegelisahan?

“Ann, aku minta maaf,” dia berkata pelan.

Aku terdiam. Untuk apa dia minta maaf? Apa yang telah dilakukannya? Seingatku Naz baik. Naz sopan. Naz nggak pernah macam-macam. Dia tipe kakak kelas yang membimbing dan mengarahkan.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf.”

“Iya tapi kenapa, Naz?” Kampusnya dan kampusku terpaut puluhan kilometer jauhnya. Dia di Darmaga, aku di Baranang Siang. Kalau ia datang ke sini cuma untuk minta maaf tanpa ada sebab, bukankah itu mubazir?

Kuharap kamu nggak salah ngerti setelah ini,” dia menghela nafas dalam sebelum melanjutkan.

Hatiku gelisah. Apakah ini menyangkut…

“Ini tentang kita.”

Deg.

“Ann, apakah kamu tidak merasa ada yang salah…tentang kita?”

Aku termangu. Tidak merasa ada yang salah? Memang tidak, kan? Seingatku hubungan kami baik-baik saja. Tak ada permusuhan, pertengkaran atau apa. Kami masih sama-sama aktif di kepanitiaan, aku masih sering mengontaknya…

Kugigit bibir. Mendadak aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

“Ini tentang hubungan kita, Ann. Maksudku…”

“Ya, Naz. Ini tentang hubungan kita,” mendadak kerongkonganku terasa kering. “Kamu mau bilang kalau ini harus diakhiri, kan?”

Dia mengangguk.

“Meskipun hubungan kita nggak istimewa? Meskipun kebersamaan kita cuma di organisasi? Meskipun percakapan kita tak lebih dari say hello di telepon atau sms?”

Naz kembali mengangguk.

Aku mendesah. “Aku nggak tahu apa yang harus diakhiri, Naz. Kita toh belum memulai.”

Naz menggulung lengan kemejanya. Membetulkan letak kacamatanya.

“Ann…” suaranya bergetar. “Memang tak ada yang istimewa dalam hubungan kasat mata kita. Tapi kita sama-sama tahu, jauh di relung hati, kita saling menyimpan perasaan itu.”

Aku menunduk dalam. Naz benar. Aku menyimpan perasaan itu. Kalau tidak, untuk apa aku sering meneleponnya hanya untuk menanyakan kabar? Untuk apa aku rajin mengiriminya email? Aku masih ingat, email terakhir yang kukirim pada Naz adalah tiga buah puisi. Puisi tentang isi hatiku – kesedihanku, uneg-unegku, masalahku. Bukan puisi cinta – tapi apa bedanya?

Terlalu banyak bukti kecil yang menjastifikasi. Bahwa hubungan kami lebih dari sekedar adik dan kakak kelas. Lebih dari sekedar tim dalam kepanitiaan. Lebih dari sekedar teman – seperti yang orang-orang percayai selama ini.

Aku tak tahu kapan tepatnya rasa itu muncul. Yang pasti sejak kami sering bersama-sama mengurus organisasi. Dia ketuanya, aku wakilnya. Dari percakapan formal, kami saling mengenal. Memahami karakter. Kemudian saling bicara tentang prinsip. Lalu cita-cita. Dan dari semua kesamaan yang ada, muncullah perasaan-perasaan istimewa – pasti begitulah prosesnya.

“Kita telah tahu batasannya,” Naz berucap. “Tapi kita telah melangkah lebih jauh dari batasan itu.”

Kulihat dari sudut mata, Naz meremas-remas rambutnya. Menciptakan kegelisahan yang makin meninggi di antara kami.

“Ann, maafkan aku,” ada nada frustrasi dalam suaranya. “Kita sudah membuat perasaan itu tumbuh terlalu dalam. Aku tidak hanya sering memikirkanmu, mengangankanmu, menjadikanmu bagian dari mimpi-mimpiku. Aku bahkan…sudah merencanakan satu hal. Aku ingin cepat lulus, kerja, dan…datang padamu. Pada orangtuamu. Mengkhitbah kamu…”

Sebuah getaran mengaliri nadiku. Naz sudah berpikir sejauh itu? Ah, ternyata bukan hanya aku saja yang begitu. Kami berdua sama, diam-diam mengukir impian itu. Aku tersenyum, tapi lalu buru-buru membunyikan alarm dalam jiwaku. Ini tidak benar!

“Naz, aku juga minta maaf. Aku telah membuatmu…” aku tak dapat melanjutkan ucapanku. Aku terlampau malu pada diri sendiri. Selama ini sikapku, ucapanku, gerak-gerikku, semua telepon dan sms dariku, adalah pancaran perasaanku yang telah menghadirkan sesuatu yang lain di hati Naz. Sesuatu yang mengusik hari-harinya, pikirannya, dan bahkan rencananya akan masa depan. Aku telah mengotori hatiku, kemudian hati Naz juga. Ya Allah, maafkan hamba…

Di bulan Ramadhan, seharusnya kami bisa lebih menjaga hati. Lebih intens mendekatkan diri pada-Nya, daripada mengisi jiwa dengan pendaran rasa yang aneh dan kadang menyiksa ini. Seharusnya hati kami lebih putih, lebih bersih. Mengapa sekarang kesucian itu diperciki noda? Mengapa kami sibuk memupuk perasaan yang fana, dibanding memperbanyak amalan surga. Mengapa kami sibuk mengukir bayangan kebersamaan kami, dan mencoba melangkahi takdir? Naz bahkan sudah menghimpun rencana, padahal belum tentu ini juga merupakan rencana-Nya. Kami sudah mencoba “bermain-main” dengan takdir…

“Naz, kita memang tidak seharusnya…” aku kembali tak sanggup melanjutkan ucapanku. Terlalu sesak rasanya. Karena sudah jelas ini salah. Seharusnya aku dan Naz tidak saling memulai, lalu memupuk perasaan itu hingga memenuhi relung hati. Seharusnya kami persembahkan cinta hanya untuk Dia. Sang Maha Pecinta – bukan yang lain.

“Ya, Ann. Semua ini harus diakhiri.”

Aku memejamkan mata. “Ya.”

“Jangan pernah ada lagi sms. Telepon. Email. Semuanya.”

“Ya.”

“Kembalilah seperti sebelum kita saling mengenal.”

“Ya.”

“Dan tentang masa depan itu, aku hanya akan berusaha. Lulus, bekerja, dan datang padamu saat aku sudah siap. Bila Allah menghendaki, kamu dan aku akan dipertemukan kembali. Bila tidak, itu pastilah jalan terbaik. Jadi untuk sementara, buanglah harapan-harapan itu.”

Aku memahami sepenuhnya ucapan Naz. Aku menyukai kalimat-kalimatnya yang tegas.

Tiba-tiba sebutir air hangat mengaliri sudut mataku, seiring perasaan bersalah menghampiriku. Aku merasa telah jadi orang paling dungu sedunia. Aku sudah tahu hakikat dari cinta. Makna cinta. Dan totalitas cinta yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Dia. Jilbab yang kupakai inilah buktinya. Mengapa aku masih berusaha melanggarnya?

Aku bersyukur, amat bersyukur, telah diingatkan sebelum terlanjur.

Suara adzan ashar bagai wake up call bagi jiwa kami. Naz berdiri. Tak ada kata-kata untuk diucapkan lagi. Semuanya sudah berakhir.

Kami saling mengucap salam. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Dan ketika jamaah sholat ashar di mushola kampus bubar, hatiku menjadi hambar. Naz sudah tak ada. Aku ikhlas dan lega telah melepasnya. Namun perasaan kehilangan selalu muncul tatkala kau menyadari kepergian seseorang, bukan?

Kulangkahkan kaki, meninggalkan taman kampus yang mulai sepi. Air mataku jatuh, tapi aku tahu, aku akan baik-baik saja. Setelah kembali ke flatku, aku mungkin akan menangis sebentar, lalu semuanya akan kembali normal. Seperti lirik lagu yang samar-samar kudengar dari jendela kost mahasiswa yang kulewati.

If you ever leave me
If you ever let me down
If you ever tell me
You don’t want my love around

I’ll be alright
I got the moments of my life
All I need is a little time to cry
Then everything will be alright...


***


Ramadhan, 1424 H


Pagi ini aku datang lebih awal ke kantor. Selama bosku pergi ke luar negeri, tugas-tugas menjadi tanggung jawabku, makanya harus lebih rajin.
Aku merapikan diri sejenak lalu duduk di meja kerja, membuka file komputer.
Dari balik sekat kaca, kulihat resepsionis memberi isyarat padaku. “Ada telepon buat Mbak Anna di line 3.”

Aku buru-buru menekan tombol 3. Siapa yang menelepon pagi-pagi begini? Bosku-kah? Apakah ada masalah dengan kunjungannya di Singapura? Atau ada proyek baru yang harus segera ditangani barangkali?

“Halo…”

“Assalamualaikum, Ann. Sedang apa?”

Aku termangu sejenak. Menebak-nebak suara yang muncul dan agak hilang timbul itu.
“Maaf, siapa ini?”

“Aku Iman – Iman Al Nazar. Masih ingat?”

Dadaku seperti terkena sengatan listrik. Nama itu…sudah lama sekali tak kudengar…tapi bagaimana mungkin aku melupakannya?

“Naz?”

“Ternyata kamu masih ingat.”

Mendadak luapan gembira membuncah di dadaku. Seribu pertanyaan berdesakan di benakku. Naz, apa kabarmu? Kamu sekarang di mana? Maafkan aku, dulu nggak datang ke wisudamu. Aku terlalu sibuk menjadi pengganti dirimu, memimpin organisasi kita. Sekarang sudah kerja di mana? Aku baru setahun lulus, dan langsung dapat kerja. Kamu menelepon dari mana?

Semua pertanyaan itu menghilang ke dalam kesunyian pagi di bulan Ramadhan ini. Ya Allah, tidak seharusnya aku seantusias ini. Dia kan cuma Naz. Seorang teman lama, mentan kakak kelas, seseorang yang telah menjadi bagian dari masa lalu – hampir.

“Ann, apakah kamu masih ingat saat terakhir kita bertemu? Maksudku, saat terakhir kita berpisah?”

Aku terdiam mematung. Masa dua tahun lalu – saat kami bertemu di taman kampus itu, saling berjanji untuk membersihkan hati dari perasaan-perasaan yang tak seharusnya muncul – bagaimana aku bisa melupakannya? Peristiwa itu masih begitu jelas terpampang di memoriku. Mengapa rasanya baru kemarin? Padahal aku sudah lama menghapus Naz dan semua tentangnya. Telepon tak terduga ini bagaikan jam beker yang membangunkanku dari tidur.

“Ann, kamu masih di situ?”

Aku tersentak. “Ya, Naz.”

“Kamu kaget?”

“Mmm…ya. Ini serasa mimpi.”

“Ini nyata.”

“Yah, tadi aku pikir siapa. Kamu kedengaran agak beda sih. Sekarang, eh, lebih banyak bicara. Benar, kan?”

“Oh ya? Mungkin saja. Karena aku kerja di bagian humas sekarang.”

“Wah, jadi kamu udah kerja? Di mana?”

“Di PT X, sesuai dengan bidang kuliahku.”

“Ooh…”
Hening beberapa saat. Aku mendengar suara-suara berisik di seberang telepon. Mungkin koneksinya sedang buruk. Tapi lalu suara Naz kembali muncul.

“Ann, lebaran nanti, kamu mau pulang, kan?” nada di seberangku terdengar canggung.

“Oh, tentu. Aku pasti pulang. Maksudku, insya Allah.”

“Aku masih menyimpan alamatmu, lho.”

Deg. “Oh ya?”

“Ya, Ann. Aku pernah ke sana, ke rumahmu. Bertemu orang tuamu. Dan menanyakan nomor kantormu. Makanya aku menelepon.”

Deg deg.
“Oh ya?” Apakah…dia sudah tahu? Apakah orangtuaku sudah memberitahunya?

“Ann, apakah boleh, lebaran nanti aku ke rumahmu, silaturahmi?”

Degup di jantungku berderap seperti kuda yang dilecuti cambuk. Jadi, Naz belum tahu? Apakah dia belum melupakan semuanya? Apakah dia masih menyimpan…rencananya?

“Ann, aku – aku akan menyambung niatku yang dulu. Masih bisakah?”

Tengkukku serasa dingin. Aku tak tahu harus menjawab apa. Mendadak lidahku serasa kelu. Mengapa Naz begitu terbuka, bahkan di saat kami baru dipertemukan kembali setelah sekian lama?. Masih terbayang jelas di ingatanku kejadian di taman kampus itu. Saat Naz berkata di momen perpisahan kami, “Dan tentang masa depan itu, aku hanya akan berusaha. Lulus, bekerja, dan datang padamu saat aku sudah siap.”
Aku tak pernah menyangka dia masih memegang kalimat itu, dan sekarang sudah siap untuk memujudkannya. Ah, Naz. Mengapa waktu berlalu cepat namun tidak mengubah banyak hal? Mengapa aku belum dilupakan?

“Jadi gimana? Lebaran nanti, diizinkankah aku datang ke rumahmu?” ada nada cemas dalam suaranya.

Aku menghela nafas. Lagi-lagi tak tahu harus berkata apa. Tak tahu harus mulai dari mana.

“Kok diam? Apa aku tak boleh?”

“Mmm…bukan begitu, Naz. Tapi…”

“Tapi kenapa? Kenapa aku tak boleh berkunjung, menemuimu?”
Naz benar. Kenapa tak boleh? Tak ada salahnya kan menerima kehadiran seorang teman di hari lebaran? Bukankah memanjangkan tali silaturahmi adalah sebuah kewajiban?

“Baiklah. Kalau itu tidak membuatmu repot. Kau boleh datang, Naz. Pintu rumahku selalu terbuka, dan aku akan punya kesempatan untuk menjelaskan beberapa hal.”

Terdengar nafas kelegaan dari seberang sana.

“Thanks ya, Ann. Sampai ketemu, assalamu’alaikum,” percakapan telepon pun berakhir. Naz mengakhirinya dengan nada mengandung harapan.

Kuhenyakkan punggung ke kursi. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang akan kukatakan pada Naz saat lebaran tiba? Dia pasti akan datang memenuhi janjinya. Naz selalu tepat janji.

Mendadak ponselku bergetar. Sebuah sms muncul.

“Sedang apa, Sayang? Udah sarapan? Mau kujemput nanti untuk makan siang? Cintamu: Tris.”

Tiba-tiba hatiku diliputi perasaan lega. Aku tersenyum.

Diam-diam kutatap sebuah foto pernikahan yang berdiri malu-malu di sudut mejaku. Foto pernikahanku. Ya, pernikahanku. Dengan Tris – seorang ikhwan yang kukenal lewat proses taaruf. Aku tahu, semuanya semakin jelas sekarang. Kenangan masa lalu itu, pertemuan di taman kampus itu, adalah jalan terbaik untukku, meskipun dulu aku sempat merasa sedih kehilangan seseorang yang kukagumi. Seandainya dulu Naz dan aku tak bersepakat untuk mengakhirinya – perasaan-perasaan konyol itu dan semuanya – alangkah rugi karena ternyata harapan kami, rencana kami, tak sesuai dengan takdir yang selanjutnya digariskan untuk kami.

Kini aku telah mendapat garis takdirku sendiri. Sebuah takdir yang indah. Aku telah menjadi seorang istri, dan bebas menyimpan perasaan-perasaan dan harapan untuk pria yang telah sah mendampingi. Semua sms, telepon, email, tak lagi menjadi rangkaian dosa dan ketersiaan. Seperti yang dulu kulakukan untuk Naz, pria yang belum pasti akan menjadi milikku, dan memang ternyata bukan untukku.
Samar-samar kudengar sebuah lirik lagu dari WMP di komputerku. Suara manis penyanyi Swedia kesayanganku.

People change I know it
It’s the most natural thing
And if you wanna show it
You don’t owe me anything

I’ll be alright
You gave me the best years of my life
A guy like you is very hard to find
So everything will be alright



Ya, banyak hal telah berubah. Tapi tak ada yang perlu kucemaskan. I’ll be alright. Naz akan memahami perubahan itu. Lebaran nanti aku hanya harus bertemu dengannya. Memperkenalkannya pada Tris. Aku percaya, Naz akan sangat bijak untuk memahami semua itu, seperti kebijaksanaannya di taman kampus dua tahun yang lalu. Thanks, Naz. You gave me the best years of my life, then everything will be alright…

Copyright@2009 by Elie Mulyadi. Dilarang mengcopy tanpa izin penulis.